<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Catatan Ringan | Ogi Fajar Nuzuli</title>
	<link>http://ogi.blogsome.com</link>
	<description>Catatan-catatan Ogi, secara ringan soal banyak hal: musik, olahraga, politik...</description>
	<pubDate>Sun, 04 Dec 2005 13:36:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Sebuah Titik Balik</title>
		<link>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/sebuah-titik-balik/</link>
		<comments>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/sebuah-titik-balik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2005 12:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Politik</category>
	<category>Manusia</category>
		<guid>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/sebuah-titik-balik/</guid>
		<description><![CDATA[	
	DALAM perjalanan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, kami singgah di Biereun untuk sekadar mampir di sebuah Posko yang didirikan oleh Lembaga Sosial Islam asal Malaysia. Kami melihat para relawan sedang membongkar barang-barang untuk perlengkapan esok ke lapangan. Mereka belia, santun dan intelek. 
	Di lokasi pengungsian lain, setidaknya kami melihat dua unit pengolahan air bersih canggih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/aceh3.jpg" alt="Ogi di salah satu kawasan yang luluh lantak di Banda Aceh" /></p>
	<p><strong>DALAM</strong> perjalanan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, kami singgah di Biereun untuk sekadar mampir di sebuah Posko yang didirikan oleh Lembaga Sosial Islam asal Malaysia. Kami melihat para relawan sedang membongkar barang-barang untuk perlengkapan esok ke lapangan. Mereka belia, santun dan intelek. </p>
	<p>Di lokasi pengungsian lain, setidaknya kami melihat dua unit pengolahan air bersih canggih (water treatment) yang dibangun oleh Lembaga Sosial dari Eropa dan Amerika. Pada banyak titik pengungsian berdiri pos-pos bantuan kesehatan sampai rumah sakit lapangan dari Bulan Sabit Merah Internasional. Posko kesehatan ini diawaki para relawan asal Malaysia, Singapura, Pakistan, Turki dan beberapa dari Indonesia. </p>
	<p>Di sebuah tempat lain di Banda Aceh berdiri sebuah rumah sakit lapangan canggih, yang antara lain dilengkapi tenda ber-AC serta alat pendukung lain, termasuk mobil-mobil operasional yang “wuah keren betul untuk ukuran kita”. </p>
	<p>Rumah Sakit lapangan dengan bentuk tenda itu dibangun Angkatan Bersenjata Jerman. Relawan-relawan asing dari berbagai bangsa hilir mudik di titik-titik bencana baik untuk bekerja membersihkan puing, mendata maupun mendokumentasikan berbagai hal. Pendek kata, Banda Aceh menjadi kota Internasional yang didatangi oleh banyak orang dari berbagai bangsa di dunia dan mereka bekerja sebagai relawan yang serius. </p>
	<p>Pada kesempatan berbincang dengan banyak kalangan di Banda Aceh, umumnya mereka menaruh hormat dan respek terhadap kerja dari relawan-relawan asing tersebut. Kenyataan ini membuat saya terperangah apabila mengingat beberapa waktu lalu pernah muncul berita tentang keberatan adanya pasukan dan relawan asing yang bekerja di Tanah Rencong.</p>
	<p>Fakta ini sedikit menambah keyakinan, bahwa omongan tokoh politik atau para pengamat sering tidak sama dengan rasa dan hati rakyat kebanyakan. Salah seorang staf lokal kami malah berguman, “Pengamat yang banyak omong suruh datang ke Aceh, evakuasi tuh mayat-mayat dan beresin lumpur-lumpur …bisanya cuma ngomong…!!”</p>
	<p>Saat malam tiba, kami tidur dan beristirahat di Posko PT Arun yang terletak di Ulee Kareng, pinggiran kota Banda Aceh. Posko itu merupakan sebuah bangunan pemerintah yang tak terpakai, dan dengan sedikit polesan, tempat itu kemudian menjadi posko sederhana. </p>
	<p>Di posko sekaligus gudang itu, tersimpan barang-barang yang setiap hari dibagikan oleh mobil pick up PT Arun ke titik-titik pengungsian. Beberapa barang yang dibagikan berasal dari bantuan Persaudaraan Muslim Malaysia. Packing barang bantuan dari saudara-saudara kita di Malaysia demikian rapi. Tiap kotak telah disablon, lengkap dengan tulisan asal sumbangan, isi dan jumlah  paket yang ada di dalamnya. Saya langsung teringat kotak-kotak bantuan dalam negeri yang masih ditulisi spidol, diikat tali rafia, atau kalau agak rapi dikit menggunakan lakban.</p>
	<blockquote><p>Yang lebih parah, lembaga asing membangun tenda untuk menampung aktivitas relawan guna membantu masyarakat Aceh, seperti pendirian posko kesehatan, pendidikan, konsultasi psikologi dan lain-lain, sementara lembaga kita lebih menonjol dalam hal menaikkan dan memasang spanduk, untuk menyatakan “kami pernah datang dan sekarang tinggal kenangan.”</p></blockquote>
	<p>Lama saya termenung. Saudara serumpun telah demikian jauh meninggalkan kita dalam hal manajemen dan etos kerja. Dr. Tri Joko, teman seperjalanan, coba menghibur saya; “Ya… mereka ‘kan telah berpengalaman menyalurkan bantuan…jadinya lebih rapi lah.” </p>
	<p>Kegalauan itu terus ada di dalam pikiran dan hati, sampai  saya bertemu dengan tokoh penting di  Pemprov NAD. Beliau bercerita sambil memuji bagaimana relawan-relawan swasta Indonesia, seperti teman-teman dari FPI yang memiliki etos kerja luar biasa, mampu mentransformasikan semangat “jihad” ke dalam kerja sosial di Aceh.</p>
	<p>Teman-teman FPI menjadi buah bibir dan dihormati oleh hampir semua pihak di Aceh. Gaya mereka yang bersahaja, tidak banyak omong dan sanggup bekerja keras telah mencuri hati rakyat Aceh. Di Banda Aceh kiprah teman-teman dari Partai Politik yang terjun membantu dengan tidak banyak omong, juga menjadi “trade mark” kesuksesan Parpol mengambil hati melalui perbuatan  bukan dengan omongan atau sekadar janji.</p>
	<p>“Kerja baik-baiklah sekarang, bantu rakyat Aceh agar pada pemilu nanti tak perlu capai-capai omong sana omong sini untuk kampanye,”  demikian kira-kira kiat teman-teman dari Parpol untuk memperoleh simpati rakyat Aceh.</p>
	<p>Pada malam terakhir kami berada di Banda Aceh, sempat kami bersantai di salah satu kedai kopi di pusat kota.  Saat ada waktu untuk bersantai, Yohandromeda Syamsu, rekan satu tim, mencoba menghubungi teman relawan yang selama ini telah menjalin kerjasama dengan Radar Banjar Peduli. Ketika mereka datang, saya terperangah dengan penampilannya yang belia, cemerlang, intelek dan terlihat berpikiran lurus. Lembaga sosial yang dipimpinnya relatif besar dan ternama, program kerja yang mereka rancang dari brosur yang kami baca, menunjukkan mereka intelek dan profesional, sekaligus serius.</p>
	<p>Pada malam terakhir itulah tensi rasa kesal terhadap diri sendiri dapat menurun drastis. Dalam hati saya; “Setidaknya Indonesia masih ada&#8230;”. Kita masih memiliki orang-orang muda kreatif yang sanggup bekerja profesional dan berpikir lurus. Kita masih punya manusia-manusia yang sanggup bekerja dengan peralatan dan fasilitas seadaanya dengan semangat “jihad”. Kita masih punya teman-teman Partai Politik yang berkampanye dengan contoh perbuatan dan tindakan bukan sekadar omong dan janji.</p>
	<p>Tanah kita kaya. Alamnya elok. Budaya kita eksotik dan memukau. Pada malam-malam terakhir itu, menetes air mata saya mengenang Indonesia permai yang saat ini berduka. </p>
	<p><em>(Penulis adalah Ketua Umum Radar Banjar Peduli)</em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/sebuah-titik-balik/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan yang Menyayat Hati</title>
		<link>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/perjalanan-yang-menyayat-hati/</link>
		<comments>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/perjalanan-yang-menyayat-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2005 12:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Politik</category>
	<category>Manusia</category>
		<guid>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/perjalanan-yang-menyayat-hati/</guid>
		<description><![CDATA[	
	MENYAKSIKAN Aceh yang luluh lantak, melalui perjalalan darat dari Lhokseumawe hingga Banda Aceh, banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran saya. Dari pengamatan, perbincangan dengan para relawan, aparat pemerintah atau penduduk lokal Aceh, terdapat satu kata yang selalu dikeluhkan: “koordinasi”.
	Pada  perjalanan yang difasilitasi PT Arun LNG itu kami bertemu dan beriringan dengan banyak sekali konvoi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/aceh2.jpg" alt="Ogi ketika di Banda Aceh. Latar belakang foto adalah kapal pembangkit listrik milik PLN yang terdampar di kawasan Uelhele, Banda Aceh. " /></p>
	<p><strong>MENYAKSIKAN </strong>Aceh yang luluh lantak, melalui perjalalan darat dari Lhokseumawe hingga Banda Aceh, banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran saya. Dari pengamatan, perbincangan dengan para relawan, aparat pemerintah atau penduduk lokal Aceh, terdapat satu kata yang selalu dikeluhkan: “koordinasi”.</p>
	<p>Pada  perjalanan yang difasilitasi PT Arun LNG itu kami bertemu dan beriringan dengan banyak sekali konvoi bantuan yang masuk ke Banda Aceh. Bantuan itu diangkut mobil-mobil truk tronton yang jarang sekali kita temui di Kalimantan Selatan. Demikian besar hasrat masyarakat Indonesia untuk menyumbang demi mengurangi penderitaan rakyat Aceh. Dari spanduk di mobil-mobil itu terbaca betapa beragamnya para penyumbang, mulai Badan-badan Sosial Internasional hingga restoran Burger King dan Koperasi Pengrajin Sepatu. </p>
	<p>Melalui Pengamatan sepintas rasanya tidak kurang 100 tronton yang memasuki Banda Aceh pada hari itu untuk memberikan bantuan. Namun ketika esok harinya kami datang ke kamp-kamp pengungsi serta melihat langsung titik-titik bencana di Banda Aceh, sejujurnya saya katakan, kami hanya pernah bertemu dengan 2 kelompok relawan yang membagikan sumbangan dengan mobil pick up kecil kepada pengungsi. Lalu barang-barang yang demikian banyak datang itu ke mana larinya?</p>
	<p>Belakangan baru saya ketahui, bantuan-bantuan yang datang ternyata tidak dapat terdistribusi dengan baik. Ironisnya lagi  di tengah bantuan yang demikian banyak pada beberapa titik pengungsi, kami justru melihat anak-anak di Banda Aceh mulai menadahkan tangan untuk mengemis. Padahal dari keterangan staf lokal RBP di Aceh, orang Aceh memiliki harga diri tinggi dan berpikiran bahwa meminta dan mengemis adalah sebuah pekerjaan hina.</p>
	<p>Ketika kami sedang salat di Mesjid Raya Baiturrahman, dokter yang ikut dalam rombongan RBP sempat memberikan obat seadanya kepada pedagang jeruk di sekitar masjid terbesar di Banda Aceh itu. Si pedagang jeruk mengaku sesak napas. Lantas bantuan medis yang kabarnya berlimpah itu ada di mana? </p>
	<blockquote><p>Sungguh naif kita mengharapkan masyarakat Aceh dapat datang ke lokasi-lokasi balai pengobatan atau rumah sakit, sementara mereka yang di lokasi pengungsian jangankan memiliki kendaraan atau angkutan, baju untuk menutup aurat dan makan untuk hidup saja masih menjadi persoalan. </p></blockquote>
	<p>Dari dua fenomena  yang saya temui,  terbit sebuah pikiran; bahwa sangat tidak adil jika kita menyerahkan bantuan kepada Pemerintah Daerah NAD kemudian meminta mereka mendistribusikannya kepada warga Aceh yang menjadi korban bencana. Warga Aceh termasuk aparat Pemerintah pada dasarnya adalah korban. Aset pemerintah di Aceh berupa sarana angkutan, sarana komunikasi, sarana transportasi dan sarana lainnya  sebagian besar telah hancur dan luluh lantak. Lalu logika apa yang kita pakai ketika kita datang kepada mereka membawa satu kontainer beras, gula  dan seterusnya, kemudian misalnya kita berkata “Ini adalah amanah dari masyarakat Kalsel dan tolong dibagikan kepada mereka yang berhak dengan cepat dan adil”. Sungguh suatu kekonyolan yang menyayat hati.</p>
	<p>Atau kita berharap kepada TNI/Polri, sebagai kuda tunggangan yang akan dijadikan ujung tombak dalam pendistribusian bantuan? Di dalam suasana konflik seperti di Aceh, TNI/POLRI sebenarnya memikul beban sangat berat untuk menjaga stabilitas keamanan. Selain harus memberikan bantuan penanggulangan bencana, posisi siaga yang harus disandang anggota TNI/Polri di Aceh pada dasarnya adalah pertaruhan nyawa mereka sendiri, bukan sekadar urusan lelah atau capai. </p>
	<p>Saya melihat sendiri kesederhanaan dan kebersahajaan peralatan yang dimilki TNI/Polri kita di Aceh. Kesederhanaan dan pengorbanan prajurit yang juga tidur di tenda-tenda pengungsi sungguh mengharukan. Lalu tega-teganya kita minta tolong kepada mereka untuk mendistribusikan bantuan ke kantong-kantong pengungsian! Benar-benar sebuah model logika yang jungkir balik dan sangat konyol.</p>
	<p>Dalam angan saya, mestinya Pemerintah Pusat mensosialisasikan kepada lembaga-lembaga sosial yang bergerak di Aceh hendaknya mampu mengurus diri dan bantuannya dari A s/d Z. Dari penghimpunan sampai pendistribusian. Artinya mereka datang dengan bantuan dan mereka pula yang harus bertanggung jawab membagikan kepada yang membutuhkan, sehingga Pemprov hanya memberikan data atau sebagai penunjuk jalan ke mana bantuan disalurkan. </p>
	<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/aceh1.jpg" alt="Ogi bersama aktivis RBP lain saat menyerahkan bantuan kepada korban bencana tsunami di Banda Aceh. " /></p>
	<p>Mestinya bantuan medis yang kita berikan selain berupa obat atau tenaga medis bagi rumah sakit, harus pula disiapkan untuk dapat mendirikan rumah sakit lapangan serta sangatlah ideal jika dilengkapi dengan layanan pengobatan yang bersifat mobile seperti lazimnya puskesmas keliling yang telah kita miliki. Karena sekali lagi, para pengungsi saat ini tidak memiliki daya untuk datang ke balai pengobatan atau rumah sakit. Sungguh mereka tidak lagi memiliki sarana dan sumber daya transportasi.</p>
	<p>Seandainya saya tidak datang ke Aceh, melihat dan berbicara dengan banyak orang, saya tidak akan tahu betapa kompleks persoalan di lapangan. Namun timbul pertanyaan di dalam benak saya, mengapa Pemerintah Pusat tidak memberi keterangan atau penjelasan yang cukup dan terbuka kepada semua pihak, tentang tata cara menggalang bantuan, mengorganisir bantuan serta cara mendistribusikannya  agar efektif dan optimal?</p>
	<p>Jika hal ini dilakukan olah pemerintah pusat, mungkin saya tidak akan bertemu dengan anak-anak di Banda Aceh yang terpaksa mengemis, tidak bertemu dengan pedagang jeruk yang sesak nafas kemudian diberikan obat seadanya oleh dokter tim RBP. Mungkin pula kami tidak melihat dan bertemu dengan barang bantuan yang bertumpuk tidak beraturan di kantor Pemprov NAD. </p>
	<p>Dengan sedih harus saya utarakan: “Koordinasi memang sebuah fatamorgana di Indonesia”. </p>
	<p><em>(Penulis adalah Ketua Umum Radar Banjar Peduli)</em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/perjalanan-yang-menyayat-hati/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kok Tidur di Sekolah Lagi?</title>
		<link>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/kok-tidur-di-sekolah-lagi/</link>
		<comments>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/kok-tidur-di-sekolah-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2005 12:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Umum</category>
	<category>Olahraga</category>
		<guid>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/kok-tidur-di-sekolah-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[	Ogi: Pegawai Disdik Harus Inovatif
	BANJARBARU -  Ogi Fajar Nuzuli tampak cemas ketika mengetahui atlet-atlet pelajar Banjarbaru yang rencananya akan mengikuti POPDA di Banjarmasin tanggal 26-30 Juni ini, ternyata kembali ditidurkan di sekolah-sekolah seperti tahun lalu.
Yang namanya tidur di sekolah bisa dibayangkan sendiri. Tidurnya lesehan tanpa kasur. Dengan hanya ditemani bantal dari tasnya masing-masing. Selanjutnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><b><i>Ogi: Pegawai Disdik Harus Inovatif</i></b></p>
	<p><b>BANJARBARU</b> -  Ogi Fajar Nuzuli tampak cemas ketika mengetahui atlet-atlet pelajar Banjarbaru yang rencananya akan mengikuti POPDA di Banjarmasin tanggal 26-30 Juni ini, ternyata kembali ditidurkan di sekolah-sekolah seperti tahun lalu.<br />
Yang namanya tidur di sekolah bisa dibayangkan sendiri. Tidurnya lesehan tanpa kasur. Dengan hanya ditemani bantal dari tasnya masing-masing. Selanjutnya masalah WC atau kamar mandi juga termasuk persoalan krusial sekali, karena jumlahnya seringkali tak sebanding dengan jumlah para atlet. </p>
	<p>Tak ubahnya dengan tahun lalu, persoalan nyamuk juga pasti mengganggu nyenyaknya tidur mereka. Padahal para atlet sangat membutuhkan waktu istirahat yang cukup, karena besoknya sudah pasti dituntut harus tampil sehat untuk menghadapi pertandingan. </p>
	<p>Kemudian persoalan tidak hanya sampai di situ saja. Sebab jika ada yang mendapatkan cedera sudah pasti tambah lengkap lagi penderitaan mereka. </p>
	<p>&#8220;Terus terang saya sendiri tak habis pikir dengan pegawai Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel yang mengurusi masalah POPDA ini. Persoalan sudah tidak layaknya para atlet pelajar tidur di sekolah itu kan sudah pernah dikritik orang. Eh, ternyata tahun ini mereka kembali melakukan hal yang sama. Apa mereka itu sepertinya tidak punya sama sekali keinginan untuk melakukan perbaikan setiap tahun,&#8221; cecar Ogi Fajar Nuzuli. </p>
	<p>Menurut Kepala Distakot Kota Banjarbaru itu, kalau pegawai Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel punya keinginan saban tahun lebih baik lagi, tentu mereka harus punya upaya untuk memperbaikinya. </p>
	<p>&#8220;Memang ujung-ujungnya yang dipersoalkan itu mesti masalah minimnya dana. Tetapi bukan berarti gara-gara dananya minim, lantas langsung menyerah. Jadi pegawai itu kan tentu harus punya pemikiran yang inovatif. Kalau tak punya sama sekali, ngapain mereka dipertahankan. Mending disuruh mundur, atau pensiun dini saja,&#8221; timpal Ketua Harian Pengda Pertina Kalsel itu, sembari menjelaskan pihak Disdik Prov Kalsel sebenarnya masih bisa mengupayakan pencarian dana lewat sharing dengan para bupati atau walikota. Karena para bupati atau walikota juga pasti tak ingin menyaksikan para atlet pelajar daerahnya masing-masing terlantar. </p>
	<p>Lantas apa tanggapan Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel tentang keluhan akomodasi para atlet pelajar POPDA ini? Kasubdin Bina Pemuda dan Olahraga Disdik Prov Kalsel, Oriono Nyiker, menjelaskan pihaknya memang sengaja menidurkan para atlet pelajar itu di sekolah-sekolah di kawasan Mulawarman Banjarmasin. &#8220;Kami memahami, kalau Disdik kabupaten maupun kota yang mengirimkan para atlet pelajarnya ke POPDA ini sudah pasti mengeluarkan banyak dana. Makanya kami mengusahakan sekolah-sekolah yang dipilih sebagai tempat tidur para atlet itu berdekatan dengan tempat pertandingan. Supaya biaya yang dikeluarkan dapat sehemat mungkin. Ya, boleh juga dikatakan POPDA ini betul-betul murah meriah,&#8221; terang Oriono Nyiker, ketika ditemui di ruang kerjanya siang kemarin. (dye) </p>
	<p>[testing posting&#8230; dikutip dari arsip <a href="http://www.radarbanjarmasin.com/berita/index.asp?berita=Olahraga&#038;id=34950" target=_blank>Radar Banjarmasin</a>]
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogi.blogsome.com/2005/12/04/kok-tidur-di-sekolah-lagi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
